Minggu, 29 Juni 2014

Bak Air Hujan

    Hujan deras melanda kota jakarta, ku hanya bisa menatapnya dari jendela kaca mobil ini. Terlintas digambaran benakku, sebuah kota entah dmn yang bermandikan hujan darah usai perang antar suku di daerah tak dikenal.
Aku membayangkan hal itu terjadi di kotaku, mungkin akan terjadi sebuah kekacauan dan tak satupun orang bisa menghntikannya. Mungkin bayanganku tidak akan pernah terjadi, karena kotaku sangat damai. Butuh sesuatu yang besar untuk menyulutkan api perang dan kekacauan.
      Mungkin seharusnya aku tidak memikirkan hal-hal yang tidak-tidak, karena mungkin suatu hari nanti hal ini terjadi dan tak ada yang tau kapan akan terjadi. Karena manusia tidak ada yang bisa memprediksi dengan tepat. Karena kita masih memiliki banyak kekurangan dan tak mungkin untuk mencapai tingkatan sempurna. Mungkin itu yang akan menjadi alasan utama manusia untuk mencari kesempurnaan diri lewat belajar hal yang dilarang.
     Bak air hujan yang akan berhenti pada waktunya. Manusia juga memiliki batasan dan waktu yang tidak cukup untuk melakukan sesuatu yang bagus selama hidupnya. Mungkin bila hujan bisa abadi, mungkin manusia juga akan abadi. Itupun tergantung kehendak-Nya, bila Ia menghendakinya mungkin bumi akan penuh dengan air dan manusia akan seperti perumpamaan sebut tenggelam didalam genangan air.
      Bak air hujan. Tak akan ada yang mengetahui kapan berhentinya dan kapan akan deras lagi. Seperti halnya manusia yang tak akan tahu kapankah waktunya didunia habis dan apakah esok masih bisa bernafas dan menghirup udara segar dan kebebasan.
Dan ada juga manusia yang ingin membantah hal itu, dengan menciptakan sebuah film yang mungkin sebagian kalian tahu. Film itu menggambarkan sebuah keinginan manusia bahkan bisa dikatakan itu keinginan utama tetapi bila hal itu terjadi akan banyak ketidak adilan antar manusia.
    Karena manusia akan berlomba-lomba mencari keabadian, dan mungkin itulah hayalan terbodoh manusia. Yaitu, bisa melihat sisa umur mereka bak melihat waktu di jam tangan, tetapi yang terlihat adalah hitungan mundur dan bila waktunya habis maka matilah mereka bak serangan jantung.

     Maka beruntungnya kita yang hidup dengan peraturan pencipta yang maha adil dan kita pun bisa mengikuti aturannya dan mengikuti alur yang telah ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar