Sabtu, 31 Desember 2016

Maafkan Aku Rani




Namaku Rina, dulu aku memiliki seorang saudari kembar yang bernama rani, tetapi itu dulu kini rani sudah tiada. Ia meninggal karena kesalahanku, kesalahan yang tidak pernah kulupakan sampai saat ini. Kesalahan yang membuat aku seperti ini. Setelah saudari kembarku meninggal, aku mengalami stress berat saat aku masih kecil. Saat itu aku masih duduk dibangku sekolah dasar. Ini memang kesalahanku, jika saja aku tidak bercanda dengan pisau, rani mungkin tidak akan tewas tertusuk pisau yang kupegang saat itu. Saat itu aku bingung dengan apa yang telah kuperbuat kepada saudariku. Saat itu mataku kosong dan rasa mual ketika melihat darah mengucur dari balik baju saudariku menyelimuti diriku. Aku berteriak sekencang-kencangnya dan aku pun tak sadarkan diri.
“RIn …., bangun rin, kamu gak apa kan?” panggil mama. Aku terbangun dan langsung menangis dipelukan mama. “sudah rin tenang, kamu jangan nangis terus, kasihan rani kalau kamu nangis terus, nanti dia tidak tenang disana” hibur mama. Aku pun berhenti menangis dan menatap wajah mama, tampak mata mama yang memerah dan kelopak mata mama yang menghitam. “maaf ma, rina ga sengaja” teriak aku. “sudah lupakan saja, Rani sudah tiada, mama tidak mau kehilangan kamu rina, jangan dipikirkan lagi ya nak” jawab mama.
Sepuluh  tahun berlalu, saat ini aku berumur dua puluh tahun, dan aku sekarang duduk dibangku kuliah. Aku kuliah di universitas ternama di bandung. Tetapi kini bayangan kematian Rani masih terbayang dikepalaku. Sampai suatu hari Rani menghantuiku. “Hey Rina sayang, kamu kok enak ya, masih bias hidup, tau cinta, persahabatan, tidak seperti aku, kenapa dulu kamu bunuh aku rin” berkata Rani. “Ran maafkan aku, tolong maafkan aku, aku menyesal, waktu itu aku tidak sengaja, sungguh..”jawab aku. “lalu, mana mungkin aku bisa memaafkan kamu begitu saja Rin, kamu udah merenggut kebahagian aku, kehidupanku, aku kesepian disini” hardik Rani.
Berkali-kali Rani menggentayangiku, aku terus pendam sendiri, hingga kucoba untuk mengacuhkannya, tetapi tidak bisa. Hingga suatu hari aku kehilangan kewarasanku, akibat ulah Rani. Tetapi tidak ada yang tahu, termasuk ibuku. Hingga suatu hari aku memiliki teman bernama Maya. Dia sahabatku, dia mengerti aku, dan mengerti apa yang aku derita saat ini. Tapi Rani tidak senang dengan kebahagiaanku. Suatu hari Rani berbisik kepadaku. “Jika kamu mau aku maafkan, turuti keinginanku” berkata Rani. “Apa maumu ran?” Tanya aku. “aku ingin sahabatmu Rin, hahaha” Jawab Rani senang. “Apa maksudmu ran?” Tanya aku bingung. “Bunuh sahabatmu itu, hahaha, dan turuti semua keinginanku”jawab Rani. Aku pun terkejut hingga aku bingung apa aku harus membunuh sahabatku sendiri atau tidak.
Keesokan harinya aku berkunjung kerumah Maya. Maya memang terlalu baik, mungkin jika orang lain mengetahui apa yang kurasakan saat ini mereka mungkin akan menjauhiku. “Rin, kamu yang buat materi yang ini, biar aku yang buat materi yang satu lagi, ok” berkata Maya. Sekitar tiga jam aku dirumah Maya, hingga waktu jam makan siang, aku pergi ke dapur untuk memasak sesuatu untuk Maya. Dan tiba-tiba Rani muncul, “lihat sahabatmu punya pisau yang sama seperti pisau yang kamu pakai untuk membunuhku, sekarang tusuk jantung sahabatmu seperti yang kamu lakukan kepadaku” perintah Rani. Aku pun terdiam, lalu tiba-tiba tanpa sadar aku mengambil pisau dapur dan memanggil Maya, “May sini, aku tidak tahu cara menyalakan kompor rumah kamu” panggil aku. “Roger’ jawab Maya. Ketika Maya sampai ke pintu dapur langsung saja aku menikamnya dengan pisau ditanganku. Sontak Maya bingung dan berkata, “Kenapa Rin? Kenapa kamu melakukan ini kepadaku?”. “Maafin aku May, aku tidak ada dendam sama kamu, tapi ini aku lakukan untuk saudariku” jawab aku. Setelah Maya sudah tidak bernyawa aku pun langsung pergi meninggalkan rumah maya dan membawa pisau yang aku pakai untuk membunuh Maya.
Rani tertawa puas melihat aku membunuh Maya, kejadian itu pun terus berulang ketika aku memiliki seseorang yang akrab denganku, sampai aku memiliki kekasih yang juga kubunuh demi keinginan Rani. Jasad mereka aku sembunyikan di rumah Maya. Sampai suatu hari ada laporan orang hilang berjumlah delapan orang. Salah satunya adalah Maya, Andri yang merupakan mantan kekasihku yang dulu sangat menyanyangiku, Alena sahabatku yang kedua setelah Maya, Fani saudari sepupuku, Ramon mantan kekasihku yang selalu menyemangatiku saat aku sedih, Ana sahabatku yang ketiga, Natasya temanku dan Rani saat sekolah dasar dulu, dan Intan sahabatku yang ketiga. Mereka menghilang secara misterius, aku selalu mencari mereka.
Suatu hari aku mendapat telepon dari polisi dan mereka mengatakan bahwa ada yang pernah melihatku membawa kantong besar kerumah Maya. Sontak aku bingung. Rani yang selalu di sampingku melayang-layang tertawa, dan membuat aku betambah bingung. Sesampai dirumah Rani sontak berteriak kepadaku, “hey bodoh, apa kamu lupa semua yang terjadi kepada semua orang dekatmu, huh?” hardik Rani. “Apa maksudmu Ran? Aku tidak mengerti sama sekali” jawab aku. “kamu yang telah membunuh mereka semua, apa kamu lupa” hardik Rani. Sontak aku pun tiba-tiba mengingat semuanya, semua yang telah kulakukan terhadap sahabat dan kekasihku. Aku menyesal dan aku langsung berlari ke dapur. Langsung kutarik pisau di tempatnya, lalu aku bunuh diri. “Rin, udah pulang belum? Sepertinya belum ya” berkata Mama sambil berjalan ke dapur dan sontak terkejut melihat jasad ku berlumur darah persis seperti jasad Rani dulu. Mama pun berteriak,” RRIIIINNNAAA……”, Mama pun pingsan. Arwah Rani yang menyaksikan semuanya pun puas dan berkata, “Rin sekarang kamu aku maafkan”.

Minggu, 06 September 2015

For My Heart

Matamu
Yang berwarna coklat
Indah ketika menatapku
Oh.. Duhai bidadariku

Suaramu
Yang lembut
Menyejukkan hatiku
Duhai bidadari

Disisimu
Aku tenang
Aku nyaman
Duhai wanitaku

Dirimulah
Pencerah jiwaku
Pencerah hatiku
Duhai belahan jiwaku


For My Heart ....

Puisi: Hari Sunyi

Wahai engkau hari sunyi
Hari yang mengurungku dirumah
Dan hanya bisa berdiam diri

Wahai engkau hari sunyi
Percepatlah waktumu
Secepat mungkin

Wahai engkau hari sunyi
Jangan kau perlambat
Laju waktumu

Wahai engkau hari sunyi
Mengapa kau tak
Mempercepat waktumu

Wahai engkau hari sunyi
Aku berharap hilangkanlah
Semua kebahagian manusia-manusia
Brengsek yang menciptakan kesunyian untukku

Wahai engkau hari sunyi
Ramaikanlah harimu
Dengan hujan yang deras
Agar aku bisa tertidur
Dan bangun segar esok pagi

Minggu, 02 November 2014

Hening Gunung Emas

Sunyi hening dan tenang
Di kelilingi ladang teh yang rimbun
Ladang segala jenis teh

Memberi ketenangan jiwa
Memberi ketenangan hati
Menghapus gundah

Menghapus masalah
Menenangkan hati
Menyejukkan jiwa

Menghapus segala negatif
Membangkitkan hal positif
Yang telah lama hilang

Hening
Bunyi air mengalir di kolam ini
Memberi ketenangan

Sejuk
Di kelilingi pepohonan
Mengobati segala hal



Rabu, 24 September 2014

Hitam

   Banyak bualan yang mengatakan dunia memiliki keseimbangan. Menurutku, hal itu tidak akan pernah terjadi dimasa yang akan datang. Semisal, antara Yin dan Yang, Hitam dan Putih, Kegelapan dan Cahaya, Jahat dan Baik. Mungkin begitulah letak penyeimbang, tetapi semua itu bisa dihancurkan dengan mudah dalam satu hari. Jujur saja, aku sudah muak dengan dunia masa sekarang. Aku lebih senang dunia di masa lampau, disaat dulu pernah menstabilkan yang ada didunia.
    Kini, mungkin sebab terlahir nya diriku kembali ke muka bumi adalah menghancurkan semua keseimbangan dan mengubahnya hanya salah satu warna. Warna apakah yang sekiranya kupilih? Jelas aku tidak akan memilih warna terang menyilaukan, yang akan kupilih adalah warna kegelapan yang kuat. Dan akupun tidak akan mempedulikan siapa-siapa Di dunia ini.
    Dengan menjadi gelap, mungkin akan sangat menyenangkan. Dan akan kuhapus dari dunia ini, cinta dan kasih sayang. Dan ku warnai dengan warna merah terang diseluruh pelosok dunia. Dan untuk menghapus cinta, dibutuhkan pengorbanan yang sangat besar yaitu membunuh orang yang sangat kita cinta dan sayang. Untuk memperkuat warna kegelapan, akan ku tambah dengan menghapus keberadaan orang terdekatku. Dan mungkin saja, aku bisa menjadi monster tak berperasaan yang berwujud manusia. Mungkin saja dengan hitamku ini, aku bisa menjadikan membunuh sebagai hobiku.
    Mungkin saja ini adalah efek kepribadian ku yang telah meningkat ke level yang lebih tinggi. Sekarang pun di pikiranku sudah tidak ada lagi yang namanya rasa untuk melindungi seseorang. Dan rasanya ingin sekali ku menghancurkan seseorang. Terlalu gelap hingga ku tak bisa pergi dari sini dengan mudah. Cahaya ku hanya satu, Yaitu dia saja. Tetapi mengkinkah aku bisa mempercayakan cahaya kepadanya? mungkin tidak? mungkin iya. Karena salah satu penyebab ku begini adalah dia, dan sekarang pun aku mungkin tidak akan merasakan rasa kemanusiaan yang selalu dibanggakan orang-orang

Rabu, 10 September 2014

Puisi : Angin

Angin

Berhembus dengan lembut
Menyejukkan hati
Menghilangkan kerisauan
Menghilangkan jenuh

Berhembus di sekitar kota
Seperti memberitahukan sesuatu
Yang menyebabkan kerisauan hati
Yang menyebabkan jenuh

Angin membawa ketenangan
Tetapi kini angin telah hilang
Menggambarkan suasana hati ini
Menjelaskan kerinduan masa lalu
Yang kini hilang ditiup angin

Selasa, 09 September 2014

Angin

      Siang ini ku duduk di teras surau, kupandangi sekelilingku hanya ada lalu lalang orang-orang sehabis solat. Angin menerpa kencang. Mensejukkan diri, menenangkan diri, menghilangkan jenuh sesaat. Tetapi angin juga membawa hal yang buruk seperti bencana dan menambah musuh. Tetapi lini yang kualami berbeda, karena bidadari cantikku dengan langkah lucunya yang khas berjalan ke arahku tetapi hanya melewatiku karena ia punya urusan dengan guru yang ada dibelakangku. Ku dengarkan tiap kata yang terucap, ingin sekali aku mengucapkan kata yang indah. Tetapi yang bisa terucap hanya kata-kata yang dapat membuat dia marah padaku bila dia tak paham dengan maksud kata-kata ku.
       Aku hanya termenung diterpa angin, tak ada yang dapat kulakukan. Semua jadi serba salah, hingga yang kini bisa kulakukan hanya diam dan dengarkan. Ingin sekali kujaga ia selalu hingga waktunya tiba dia menjadi utuh milikku. Takkan rela bila sampai kulihat ada yang menyentuhnya dengan tangan kotor. Tetapi selain dia, ada satu perempuan yang membuatku tertarik sejak kami kelas X SMA di sekolah X di  Jakarta. Ia mungkin terlihat tomboy tetapi dibalik itu ia punya sesuatu yang special dan tak dimiliki orang lain, Yaitu Aura Supranatural Biru Muda yang sangat terkenal jarang ada yang memilikinya. Tetapi hubungan kami hanya sebatas kawan saja, karena yang ingin aku miliki adalah AS saja dan tidak ada lagi.
      Ibarat keseimbangan, dia adalah yang-ku dan diriku adalah yin. Selain itu daipuny memiliki sesuatu yang tak dimiliki orang lain yaitu ketulusan. Karena  ia adalah separuh jiwaku yang berharga dan angin putih ku yang tak tergantikan